Minggu, 17 April 2011

Ayam Kelaparan di Lumbung Padi

Oleh Bomanto A. Mirasi
Seorang teman saya pernah berkata, "Orang Indonesia ibarat ayam yang mati kelaparan di lumbung padi." Sebuah ungkapan yang sudah agak umum, memang, dan saya yakin bukan dia yang mengucapkan kalimat tersebut pertama kali, tetapi bagi saya kalimat itu masih terasa menggelitik dan mengajak saya berpikir dan merenung. Setidaknya saya jadi teringat informasi-informasi yang pernah saya dengar sebelumnya bahwa negeriku ini kaya raya, gemah ripah loh jinawi. Hampir semua ada di negeri ini. Alam menyediakan semuanya. Lautnya luas dan kaya akan ikan dan bahan mineral, daratannya menyimpan emas, minyak, batubara, biji besi, yang mungkin cukup untuk dipakai sendiri dan sebagainya. Tapi kenyataannya sebagian besar rakyatnya hidup melarat, hidup di bawah garis kemiskinan.
Sebenarnya ini bukan bermaksud menyalahkan keadaan melainkan mengajak merenung dan berpikir serta menyadari bahwa kenyataan seperti ini memang ada. Kenyataan pahit yang sebenarnya sangat tidak sesuai dengan logika dan perhitungan atas potensi yang tersedia. Banyak bangsa lain yang negaranya kecil, tandus, dan miskin tetapi rakyatnya hidup makmur bertolak belakang dengan bangsa kita. Lihatlah Singapura dan Brunai. Negara-negara tersebut hampir tak terlihat dalam peta, tetapi kabarnya rakyatnya lumayan sejahtera.
Pasti ada yang salah dalam hal ini. Tapi apanya yang salah? Siapa yang salah?
Jawaban atas pertanyaan tersebut hampir tidak ada gunanya untuk diperdebatkan. Jawaban atas pertanyaan tersebut juga hampir tidak ada gunanya apabila lahir dari satu atau dua orang anak negeri ini. Lebih tidak berguna lagi kalau hanya dipikirkan dan diterapkan oleh satu atau dua anak negeri ini. Seharusnya seluruh anak negeri menemukan kesepahaman meskipun dalam perbedaan. Seharusnya seluruh anak negeri memiliki kesadaran kolektif yang positif untuk membangun negeri yang kita cintai ini.
Mulai sekarang kita harus belajar dan menyadari bahwa negeri Indonesia ini kaya raya dan bisa menjadikan rakyatnya hidup sejahtera. Mulai sekarang kita harus yakin bahwa kita mampu mengelola kekayaan negeri ini. Berhentilah menyerahkan pengelolaannya kepada bangsa lain. Saya tidak bermaksud mengajak memusuhi bangsa lain. Bukan. Saya hanya ingin mengajak menyadari bahwa kita semua sederajat dan memiliki harga diri seperti bangsa lain.
Saya pernah merasa trenyuh mendengar bangsaku mengcari penghidupan di negara lain hanya sekedar jadi pembantu, tukang pasang baut dan mur, paling banter jadi sopir dan hak-hak seadanya. Lebih trenyuh lagi setiap kali mendengar dan melihat mereka teraniaya, terhina, bahkan ada yang sampai tewas. Apakah Ibu Pertiwi sudah tidak mampu memberi? Apakah Ibu Pertiwi hanya memberi yang terbaik untuk bangsa lain? Cobalah renungkan kawan, orang asing yang bekerja di Indonesia memiliki posisi terhormat, misalnya: Direktur, Manager, Tenaga Ahli, dan Mandor. Mereka mendapat gaji puluhan sampai ratusan juta per bulan. Ya, per bulan. Di apartemennya, mereka memiliki babu orang Indonesia. Coba pikir, siapa yang seharusnya menjadi tuan? Mengapa kita menjadi babu dan jongos orang asing? Kasihan sekali bangsaku ini, merantau ke negeri lain menjadi pembantu, hidup di negeri sendiri juga menjadi babu. Kapan bisa maju?

Minggu, 10 April 2011

Norman Kamaru Mungkin Tak Menyangka Bakal Ngetop

Sejak videonya beredar luas dan diunduh banyak orang dari dunia maya, Briptu Norman Kamari jadi ngetop. Anggota Brimob Polda Gorontalo ini langsung jadi bahan pembicaraan di di masyarakat. Media massa cetak maupun elektronik juga sibuk membicarakannya. Videonya yang berisi libsing lagu Chaiyya- Chaiyya langsung diburu banyak penggemar, dicari dan didownload dari internet. Sampai sekarang, khabarnya, sudah jutaan orang yang mendownload video tersebut.
Briptu Norman Kamari sendiri mungkin tak pernah menyangka dirinya bakal ngetop seperti sekarang. Khabarnya, lelaki yang berbadan tegap tersebut memang biasa menghibur teman-temannya yang sedang jenuh saat bertugas.  “Saat itu teman saya seharian tidak pernah senyum. Katanya sedang stres karena ada masalah dengan istrinya. Dari situlah,saya berinisiatif membuat video ini.Tapi,saya tidak tahu siapa yang telah meng-upload video ini ke Youtube,”kata Norman. Sebagaimana yang terekam di video, teman Norman yang duduk di sebelahnya sama sekali tidak bereaksi.Teman Norman tersebut tampak cuek dan terus memainkan ponsel.Tak lama kemudian, datang lagi satu anggota Brimob.Dia juga cuek,tak memperhatikan Norman yang asyik berdendang India.Sesekali, Norman menggoda temannya yang serius menatap ponsel di tangannya. “Setelah selesai direkam lalu saya tunjukkan hasilnya ke teman saya.Ternyata dia senyum dan enggak sedih lagi. Sekali lagi rekaman ini hanya untuk menghibur teman saya,”katanya seperti dikutip Seputar Indonesia.
Sekarang, Briptu Norman mendapatkan banyak sekali tawaran untuk menghibur penggemarnya. Beberapa instansi dengan senang hati menerima kehadirannya. Baru-baru ini dia diuandang dan hadir di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta setelah sebelumnya sempat tampil di Bukan Empat Mata, Trans 7.
 Begitulah anggota brimob Polda Gorontalo ini ngetop dengan cepat. Tapi perlu diingat, ngetop semacam ini mudah pula lenyap. Dulu, Sinta dan Jojo juga pernah mendadak ngetop dengan libsing Keong Racun-nya.